Special In Me
16 September 2007
Karet Gelang
Karet Gelang
Oleh: Tidak Diketahui
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, Satu saja.
Shampooyang akan saya bawa tutupnya sudah rusak.
Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang.
Kalau tidak bisa berabe.
Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas.
Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang.
Di lemari tidak ada.
Di gantungan-gantungan baju tidak ada.
Di kolong-kolongmeja juga tidak ada.
Saya jadi kelabakan.
Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan.
Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet.
Sudah ditunggu yang jemput lagi.
Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa.
Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa.
Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung.
Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.
Saya jadi teringat pada seorang teman dulu.
Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh.
Sungguh, sangat biasa-biasa saja.
Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi.
Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Itu pun kadang-kadang salah, Kemampuan dia memang sangat terbatas.
Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi,
membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat.
Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati.
Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua,teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.
Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.
Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apayang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan.
Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.
Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun.
Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah.
Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.
Copyright © Heart 'n Souls, 2001. All Rights Reserved.
Label: Cerita Pendek
13 September 2007
Teman Adalah Hadiah
Teman adalah Hadiah
Oleh: Tidak dikenal
Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan. Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya. Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka akan bilang:
"Menari itu tidak menarik"
"Tidak ada yang cocok denganku"
"Teman-temanku sudah lulus semua"
"Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku"
"Kisah hidupku membosankan"
Mereka tidak akan bilang:
"Aku tidak bisa menari"
"Aku membutuhkan kamu denganku"
"Aku kesepian"
"Aku butuh diterima"
"Aku ingin didengarkan"
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
Label: Renungan
